Lebaran, Lupa Sholat Tepat Waktu dan Berjamaah

Lebaran, Lupa Sholat Tepat Waktu dan Berjamaah



Orang-orang yang tak bersyukur. Diayomi, disemai, diberi kenikmatan tuk merayakan lebaran, masih saja abai hal-hal detil dan fundamental. Apa hal detil dan fundamental itu? Sholat tepat waktu dan berjamaah.
Kesibukan lebaran, kadang melanggengkan tradisi menunda waktu sholat.

Kenapa ini penting diingatkan? Karena gerak kita, tak lepas dari gerak-Nya. Ketika tubuh bergerak, apakah tanpa kendali roh? Jelas itu kendali roh. Tapi kenapa kita sering abai yang mengendalikan jasad? Terus asyik maksyuk merayakan lebaran dengan meminggirkan waktu sholat?

Ini bukan pamer atau riya. ini soal proses aksi menjadi manusia. Jika hal-hal detil dan fundamental saja tak dikuasai, tak dikontrol karena waktu perayaan dan silaturahmi antar keluarga, itu artinya kita gagal masuk ke dalam proses aksi menjadi manusia. Erich Fromm benar soal ini.



Sebisa mungkin roh itu harus mengendalikan jasad. Roh itu serpihan positif Tuhan yang bersemayam dalam diri. Anasir Tuhan dalam jasad. Anasir Tuhan seharusnya mampu mendikte gerak hidup dan kehidupan kita. Itulah kenapa, kita disarankan kirim Alfatihah ke roh yang ada dalam jasad.

Laku lampah seperti ini, menyemai roh dalam jasad, tak ada kaitan kita hafal Alquran atau ilmu agamanya menyentuh atap-atap langit. Ini terkait proses aksi menjadi manusia, proses WhoAmI. Orang-orang yang reaktif terhadap berbagai isu, bisa dipastikan mereka lemah soal WhoAmI.

Contoh kasus soal lemahnya pemahaman diri, WhoAmI ini ketika @prabowo memberikan statemen terkait Ibu Ani di kediaman @SBYudhoyono. Banyak orang memanfaatkan isu itu sebagai gorengan lebaran. Mereka abai akan sebuah pelajaran hikmah kehidupan; mengendalikan diri.

Hikmah kehidupan terkait mengendalikan diri ini, tentu tak serta merta bisa diperoleh. Prosesnya cukup panjang. Proses ini membutuhkan koherensi antara tutur kata dan laku lampah kita. Ilmu hikmah, adalah ilmu mengetahui diri, yang pada akhirnya mengetahui siapa Tuhan kita.

Plato, murid Socrates yang cukup cerdas ini, pernah mengingatkan kita; . “Human behavior flows from three main sources: desire, emotion, and knowledge.” Perilaku manusia mengalir dari tiga sumber utama: keinginan, emosi dan pengetahuan.
Bisakah kita mengendalikan tiga keinginan?

SHARE

Related Posts

There is no other posts in this category.
Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Lima Tips Cari Jodoh

Lima Tips Cari Jodoh

Banyak sekali orang yang hidup mewah, pendidikan tinggi dan kebutuhan lebih dari cukup t…