Cak Nun: Hina Saya, Kalau Sampai Datang ke Istana

Cak Nun: Hina Saya, Kalau Sampai Datang ke Istana


KABARLAIN - Emha Ainun Nadjib, akrab disapa Cak Nun, dengan tegas menolak datang ke istana. Panggilan Presiden Jokowi untuk datang ke istana dia tampik.  Sikap Cak Nun ini mempertegas bahwa daulat rakyat ada di atas daulat penguasa. 

"Sampai sekarang kalau saya bilang 'hei saya tidak bisa dipanggil presiden, saya yang berhak panggil presiden, karena aku rakyat, aku yang bayar. Itu saya lakukan, dan saya tidak pernah mau dipanggil ke istana, dan saya tidak pernah bangga sama sekali kalau ke istana. Hina saya kalau sampai ke sana," tegas Cak Nun dengan nada tinggi.



Cak Nun menjelaskan bahwa sikapnya bukanlah bentuk kesombongan tapi ini terkait daulat rakyat. Rakyat yang memegang kedaulatan. Dalam negara demokrasi, pemegang kedaulatan itu rakyat. 

"Presiden kan outsourcing. Buruh lima tahin kok Mau manggil-manggil bos. Nah buruh lima tahun yang melamar untuk ketemu bos. Kalau sudah melamar, namanya tamu harus dihormati. Tapi saya bilang, Tuhan kalau gak baik, ya gak usah datang." tegas Cak Nun.

Pernyataan Cak Nun yang terang benderang itu terkait peringatan kasus Novel Baswedan yang memasuki waktu dua tahun ini, tak jelas rimbanya. Dalam laman caknun.com, Cak Nun menjelaskan tidak terselesaikannya kasus ini sampai dua tahun menambah ketidakpercayaan rakyat kepada sistem Negara, undang-undang dan hukum, terutama kepada pelakunya. Kalau ribuan tahun pola Kerajaan kita tinggalkan untuk mendirikan Negara—kemudian formula Negara juga ternyata tak bisa diandalkan—akan terpaksa berhijrah ke mana lagi rakyat Indonesia esok hari dan di masa depan? Apakah 2019-2024 akan menjadi bagian awal dari hijrah sejarah itu, ataukah Indonesia stagnan dalam kebobrokan?

Novel madhlum, didholimi, dianiaya. Mustadl’af, ditak-berdayakan. Yang hakikatnya bisa maqtul, dibunuh.

Novel adalah warganegara, dianiaya oleh warganegara lain yang menentang hukum Negara. Membunuh hukum Negara adalah menghina kesepakatan demokrasi rakyat. Melecehkan perjuangan para leluhur untuk memperoleh kemerdekaan bangsa. Merendahkan martabat Proklamasi dan Proklamatornya sekaligus.

Novel adalah anggota masyarakat, disiksa oleh anggota masyarakat lain yang membunuh hati nurani, energi batin yang mempersambungkan kasih sayang. Nurani dan akal adalah perangkat rohani yang membuat manusia lebih tinggi dari hewan.




Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler