Surat Terbuka untuk Pak Prabowo Subianto

Surat Terbuka untuk Pak Prabowo Subianto


Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam sejahtera Pak Prabowo Subianto

Surat terbuka ini dari anak bangsa yang punya simpati dan empati ke Pak Prabowo atas sikap tulus dan ikhlas menjaga bangsa Indonesia ini. Menjaga bangsa Indonesia, baik ketika Pak Prabowo aktif di militer maupun selepas dari militer. 

Sejak 2014 saya menjatuhkan pilihan ke Prabowo. Pilihan itu berdasarkan atas panggilan nurani saya bahwa bangsa Indonesia yang besar ini, harus dipimpin oleh orang yang punya visi besar. Harus dikelola orang yang ikhls mengabdikan diri kepada bangsa, kepada negara, kepada rakyatnya. 

Pak Prabowo, pusaran lima tahun terakhir ini, negara bangsa bernama Indonesia ini, mulai rapuh. Maka tak heran, jika Indonesia dalam kurun lima tahun terakhir ini, semakin hari semakin tak menemukan identitas diri. Sebagai bangsa, Indonesia tak bisa dibaca lagi. Aura politik yang menghalalkan segala cara, di mana harga diri bisa dibeli dengan lembaran puluhan ribu. Manusia Indonesia kehilangan roh. Yang tersisa darah daging. Jika demikian sosok manusia Indonesia kini, ia tak ubahnya mayat hidup, monster-monster yang mengejar korban tuk menghisap darah. Pada titik inilah, dibutuhkan orang seperti Anda Pak Prabowo. Sosok yang punya talenta untuk membersihkan Indonesia dari sarang para penyamun. 

Saya sedih Pak Prabowo. Asal Anda tahu, jika dibayangkan Indonesia saat ini dalam bingkai pemikiran menurut Gayatri Spivak, dengan konsep ”subaltern”, manusia Indonesia sudah masuk perangkap subaltern. Subaltern mengandaikan seluruh subjek yang tertekan, lemah, dan marjinal. Mereka adalah kaum terjajah yang inferior dan bisu. Dari fenomena subaltern ini, Spivak berhasil memperlihatkan, bahwa dalam “kolonialisme” tidak hanya terjadi penaklukan fisik, namun juga penaklukan pikiran, jiwa, dan budaya.

Dalam situasi seperti inilah, ada puluhan juta orang, yang rindu kehadiran pemimpin seperti Soekarno dan Hatta. Soekarno dan Hatta adalah penarik gerbong pertama Indonesia, yang lahir karena integritas pribadinya. Kemampuan intelektual dan pribadi yang tangguh itulah, yang menjadi pemicu Seokarno dan Hatta membuka kran bagaimana memilih seorang pemimpin yang baik. Dan kemampuan intelektual dan pribadi yang tangguh itu, ada di diri Anda Pak Prabowo.

Pada titik yang lain, rapuhnya Indonesia juga berangkat dari pengkaderan yang buruk di tubuh partai. Partai politik hanya jadi lumbung menanam benih kekuasaan tanpa mau menjenguk bagaimana seorang pemimpin dibentuk. Partai politik selalu saja bertimbang, pada kepentingan partai, pada ambisi para elit partai, tuk melanggengkan kekuasaan. Mereka tak lagi berpikir, ada puluhan juta orang, yang rindu kehadiran pemimpin seperti Soekarno dan Hatta. Soekarno dan Hatta adalah penarik gerbong pertama Indonesia, yang lahir karena integritas pribadi. Kemampuan intelektual dan pribadi yang tangguh itulah, yang menjadi pemicu Seokarno dan Hatta membuka kran bagaimana memilih seorang pemimpin yang baik. 


Kekuatan partai politik memilih calon pemimpin, baik di tingkat bupati atau walikota, gubernur hingga presiden, seolah-olah masuk dalam praktik kolonialisme, di mana individu direkayasa dan dijadikan boneka partai. 

Arus besar seperti ini, praktik-praktik kolonialisme, di mana individu direkayasa dan dijadikan boneka, sering kali menjebak manusia pada upaya melupakan nilai-nilai kodrati yang hadir dari sang Maha Sublim. Nilai-nilai kodrati, yang didalamnya menghimpun ruang- ruang kesadaran pribadi manusia, seharusnya hadir bersamaan ruang gerak kehidupan manusia sehari-hari. Tapi fenomena luar, yang tumbuh berbarengan arus globalisasi, praktik- praktik politik uang, suap menyuap, mendesak manusia untuk melupakan bahkan meminggirkan nilai-nilai kodrati itu. 

Dari sinilah praktik-praktik kolonialisme, menggilas kesadaran manusia untuk bercermin dan melihat diri kembali. Dalam situasi seperti ini, bagaimana kita bisa membentuk pemimpin yang kredibel. Pemimpin itu memimpin bukan dipimpin bukan jadi boneka partai. Memimpin Indonesia Raya dibutuhkan kemampuan memimpin diri sendiri. Memimpin dengan balutan jiwa dan raga. 

Pak Prabowo, memenangkan Indonesia adalah menerapkan fondamen-fondamen yang kokoh bagi bangunan yang bernama Rumah Kebangsaan dan bangunan Rumah Kebangsaan itu bersandar pada berkibarnya Indonesia Raya ketika Pak Prabowo dilantik jadi Presiden Indonesia ke-8. Insya Allah. 

Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah Prabowo - Sandi memenangkan pesta demokrasi Pilpres 2019. Besok adalah hari kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan rezim yang selama ini mengkerangkeng kebebasan berbicara, menggerus kebebasan pendapat dan menzalimi ulama yang berada di kubu Prabowo - Sandi.

Pak Prabowo, jangan lupa salat. Salat lima waktu jangan ditinggalkan dalam keadaan apapun juga. Perbanyak istighfar dan perbanyak selawat. 


  • Teras rumah, Rabu, 17 April 2019

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Lima Tips Cari Jodoh

Lima Tips Cari Jodoh

Banyak sekali orang yang hidup mewah, pendidikan tinggi dan kebutuhan lebih dari cukup t…