Lukman Akhiri Jabatan Menag dengan Catatan Hitam

Lukman Akhiri Jabatan Menag dengan Catatan Hitam


KABARLAIN - Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengakhiri karir jabatannya sebagai Menteri Agama dengan catatan hitam. Catatan hitam tersebut terkait kasus jual-beli jabatan eks Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammad Romahurmuziy atau Rommy.

Inilah tragedi terburuk sejarah Kemenag, di mana jual beli jabatan jadi komoditi di kementrian yang mengusung nilai-nilai agama. Sebuah tragedi memalukan dan memilikan di era Lukman. Memalukan dan memilukan karena baru kali ini kantor Menag disegel KPK dan menemukan uang di laci ruang kerja Lukman. 

KPK menegaskan uang yang disita di laci ruang Menag Lukman Hakim Saifuddin bukan uang honor menteri. Ada uang honor menteri tapi KPK tak melakukan penyitaan.

"Kami sebenarnya juga menemukan uang-uang yang lain di ruangan Menteri Agama pada saat itu yang dari informasi atau dari data yang ada di sana itu diduga merupakan honorarium, dan uang-uang honor itu tak disita," ungkap Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, bulan silam. 



Usulan pemberhentian Lukman pun muncul. Suara pemberhentian Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin terlontar dari mantan Ketua KPK, Busyro Muqoddas. Busyro angkat bicara mengenai kasus dugaan jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag). Saran Busyro, Presiden Jokowi memberhentikan Menag Lukman Hakim Saifuddin dari jabatannya.

Dalam pandangan Busyro, temuan uang di dalam ruang kerja Menag hingga berujung pada penyegelan ruang kerja oleh KPK telah meruntuhkan wibawa Lukman. Sehingga sudah sewajarnya jika Lukman diberhentikan dan diganti oleh orang lain.

"Wibawa Menag sebagai pejabat tinggi di Kementerian itu kan sudah rontok dengan ruangnya disegel itu. Sudah, itu faktor kepemimpinan cacat. Kalau cacat ya jangan dipertahankan," ujar Busyro

Kegaduhan di Kemenag bermula ditangkapnya Rommy oleh KPK. Kasus ini kemudian disentil Mahfid MD di acara ILC, TV ONE, dengan menyodorkan bukti lain terkait jual beli rektor UIN. Mahfud MD kemduian melihat mantan Ketum PPP, Romahurmuziy (Rommy). Mahfud memaparkan perihal "ritualitas" yang sering dilakukan pejabat ketika terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK. 

"Ritualitas orang ditangkap itu ada tiga. Pertama bilang bahwa saya ini dijebak, padahal nggak mungkin," kata Mahfud di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (25/3/2019).

Mahfud mengatakan orang yang terjaring OTT KPK pasti telah dipantau KPK sejak lama sehingga bukan dijebak. Kemudian ritual kedua yang disebut Mahfud yaitu tentang 'korban politik'.

"Dibilang saya ini korban politik. Selalu begitu dan juga tidak ada jawaban lain orang yang OTT itu. Selama ini begitu," ungkap Mahfud. (AD)

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler