Yang Menjauh dan Yang Mendekat

Yang Menjauh dan Yang Mendekat




Heidegger memberi fatwa manusia tidak diciptakan oleh Tuhan, melainkan terlempar ke dalam dunia ini. Keterlemparan (Geworfenheit) adalah momentum yang paling primordial dalam seluruh drama eksistensi manusia. 

Apa yang diuar Heidegger, bisa saja keliru terkait manusia tidak diciptakan oleh Tuhan. Masih bisa dipersoalkan tema ini. Tapi soal keterlemparan manusia ke dalam dunia ini, bisa jadi benar. Dua diktum manusia tidak diciptakan oleh Tuhan dan keterlemparan, memang saling berkelindan. Tapi saya ingin mengambil satu uaran soal keterlemparan, sebagai titik pijak tuk menggali jalan terjal manusia dalam mengarungi lembah kehidupan ini. 

Uaran ini, ingin meminjam makna "keterlemparan" pada jendela yang lain. 



Kita sering terlempar dalam jurang kehidupan yang penuh aral. Kehidupan yang penuh onak. Penuh duri. Terlempar dari kehidupan yang lurus dan masuk dalam kubangan kehidupan yang penuh debu, penuh kabut, penuh racun, perlu cara tersendiri dalam merespon gejolak yang penuh debu, penuh kabut, penuh racun itu. 

Jika kita terlempar dari kehidupan yang lempang, masuk dalam kehidupan penuh debu, penuh kabut dan penuh racun itu, secepat kilat hati kita kehilangan gairah. Dalam situasi hati kehilangan gairah itulah, banyak orang mengambil keuntungan dari tragedi yang kita alami. Keuntungan material dan keuntungan imaterial.

Momen keterlemparan dalam pandangan Heidegger, sejatinya bukanlah satu-satunya momen penting. Momen yang lebih penting dari keterlemparan adalah laku lampah kita sehari-hari. Keterlemparan bagi Heidegger merupakan momen autentisitas, sedangkan laku lampah sehari-hari, merupakan momen inautentisitas. 

Bernard Shaw pernah mengingatkan, "ada dua tragedi dalam hidup. Pertama, jika hatimu kehilangan gairah. Kedua, selalu ada yang mengambil keuntungan dari tragedi yang kamu alami itu."


Dalam konteks ini, ketika tragedi menyerbu dalam ranah hidup kita, ada realitas yang mudah dibaca dari orang-orang yang selama ini dekat dengan kita. Mereka yang biasa bercumbu dalam percakapan sehari-hari, tiba-tiba menjauh. Mereka kumpulan orang yang tak mau masuk dalam ranah tragedi orang lain atau lebih tepatnya, tak punya empati terhadap tragedi orang lain. Mereka bagian dari seonggok manusia "Yang Menjauh". (Edy A Effendi)
























Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Lima Tips Cari Jodoh

Lima Tips Cari Jodoh

Banyak sekali orang yang hidup mewah, pendidikan tinggi dan kebutuhan lebih dari cukup t…