Tradisi Melayat Masyarakat Adonara Timur

Tradisi Melayat Masyarakat Adonara Timur

KABARLAIN - Orang Flores khususnya daratan Adonara Timur, memiliki kebiasaan yang unik ketika melayat. Ketika melayat, mereka membawa hewan (kambing dan babi) untuk diberikan kepada keluarga yang berduka. Tidak hanya hewan tapi juga beberapa kain khas Adonara yang biasa disebut dengan kwatek dan nowi. Kwatek dibawa jika yang meninggal perempuan dan nowi jika yang meninggal laki-laki.

Tentunya tidak semua pelayat yang datang harus membawa hewan dan kain-kain tersebut, hanya sebagian keluarga dekat yang membawa; anak perempuan yang sudah menikah (bine), wajib membawa kambing jantan atau babi yang harganya sekitar Rp4 juta sampai Rp5 juta berikut kain-kain yang harganya paling murah Rp250.000. Kemudian orang tua atau keluarga besar dari si mayat ( bailke) juga harus membawa beberapa  kambing jantan atau babi dengan harga yang sama seperti yang dibawa oleh bine dan tentunya juga membawa kain-kain khas Adonara dalam jumlah yang lebih banyak.



Setelah proses penguburan selesai selang beberapa hari kemudian giliran keluarga berduka harus memberikan balasan kepada bine juga bailake berupa beberapa kilo beras dan gula pasir serta beberapa kain khas.

Inilah salah satu kebiasaan kebanyakan orang Adonara, satu tradisi yang sangat membebani masyarakat Adonara sendiri. Padahal jika kita kembali pada syariat Islam, maka yang harus kita lakukan terhadap mayat  cukup memandikan, mengkafankan  mensholatkan kemudian menguburukan.

Adonara berasal dari kata "Ado" dan "Nara". Ado ini mengingatkan orang Adonara akan pria pertama yang hidup di pulau itu yakni Kelake  Ado Pehan. Sementara itu kara "Nara" artinya kampung, bangsa dan kaum kerabat. (Sumayya Assyarifa)











Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler