Rumah Kebangsaan Indonesia

Rumah Kebangsaan Indonesia





Memenangkan Indonesia adalah menerapkan fondamen-fondamen yang kokoh bagi bangunan yang bernama Rumah Kebangsaan dan bangunan Rumah Kebangsaan itu bersandar pada berkibarnya Indonesia Raya. Kenapa Indonesia Raya perlu berkibar? Bukankah kibaran Indonesia Raya itu dimulai sejak 17 Agustus 1945?

17 Agustus 1945 adalah tonggak awal bangunan Rumah Kebangsaan. Pada titik mangsa inilah, seorang pemimpin lahir dan tumbuh tanpa ada rekayasa. Ia diamini kata-katanya dan laku hidupnya tanpa rekayasa. Lahir dan tumbuh secara alami. Memasuki lima tahun terakhir dalam jejak kehidupan Indonesia, Rumah Kebangsaan itu rapuh.

Pusaran lima tahun terakhir ini, Rumah Kebangsaan itu mulai rapuh. Maka tak heran, jika Indonesia dalam kurun lima tahun terakhir ini, semakin hari semakin tak menemukan identitas diri. Sebagai bangsa, Indonesia tak bisa dibaca lagi. Aura politik yang menghalalkan segala cara, di mana harga diri bisa dibeli dengan lembaran puluhan ribu. Manusia Indonesia kehilangan ruh. Yang tersisa darah daging. Jika demikian sosok manusia Indonesia kini, ia tak ubahnya mayat hidup, monster-monster yang mengejar korban tuk menghisap darah.


Dalam situasi seperti inilah, ada puluhan juta orang, yang rindu kehadiran pemimpin seperti Soekarno dan Hatta. Soekarno dan Hatta adalah penarik gerbong pertama Indonesia, yang lahir karena integritas pribadi. Kemampuan intelektual dan pribadi yang tangguh itulah, yang menjadi pemicu Seokarno dan Hatta membuka kran bagaimana memilih seorang pemimpin yang baik.

Persoalan pengkaderan yang buruk di tubuh partai. Partai politik hanya jadi lumbung menanam benih kekuasaan tanpa mau menjenguk bagaimana seorang pemimpin dibentuk.

Partai politik selalu saja bertimbang, pada kepentingan partai, pada ambisi para elit partai, tuk melanggengkan kekuasaan. Mereka tak lagi berpikir, ada puluhan juta orang, yang rindu kehadiran pemimpin seperti Soekarno dan Hatta. Soekarno dan Hatta adalah penarik gerbong pertama Indonesia, yang lahir karena integritas pribadi. Kemampuan intelektual dan pribadi yang tangguh itulah, yang menjadi pemicu Seokarno dan Hatta membuka kran bagaimana memilih seorang pemimpin yang baik.

Maka tak heran, jika Indonesia semakin hari semakin tak menemukan identitas diri. Sebagai bangsa, Indonesia tak bisa dibaca lagi. Aura politik yang menghalalkan segala cara, di mana harga diri bisa dibeli dengan lembaran puluhan ribu. Manusia Indonesia kehilangan ruh. Yang tersisa darah daging. Jika demikian sosok manusia Indonesia kini, ia tak ubahnya mayat hidup, monster-monster yang mengejar korban tuk menghisap darah.


Kekuatan partai politik memilih calon pemimpin, baik di tingkat bupati/walikota, gubernur hingga presiden, seolah-olah masuk dalam praktik kolonialisme, di mana individu direkayasa dan dijadikan boneka partai.

Kepada kaum cerdik pandai, penggagas Rumah Kebangsaan, pekerjaan rumah terberat adalah membenahi diri sendiri. Benahi dulu pribadi-pribadi para penggagas, baik urusan rumah tangga atau komunikasi antar sesama. Pada titik ini, mereka banyak bermasalah. Logikanya sangat sederhana. Bagaimana kita bisa membentuk pemimpin yang kredibel, jika dalam diri kita tak mampu menjadi pemimpin dalam wilayah mikro; ruang keluarga, ruang dusun, di mana kita berteduh. Mulailah dari diri sendiri, sebelum menyapa orang lain.

Edy A Effendi


Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Wirid Harian

Wirid Harian

Wiridan. Wirid merujuk pada warada (tunggal), artinya hadir. Di berbagai ayat arti wirid …
Janji Allah itu Pasti

Janji Allah itu Pasti

Janji Allah, tepatnya ketentuan Allah, termaktub di surat Al-Maidah:54. Jika pada satu kaum ada yan…