Perihal Al-Mursyidu La Yursyad

Perihal Al-Mursyidu La Yursyad


"Al-mursyidu la yursyad, penunjuk jalan yang tidak mendapat petunjuk (dari Allah) di mana jalan”

Akhir-akhir ini, banyak orang mencari jalan spiritual, mencari mursyid sebagai pembimbing rohani. Jalan spiritual ditempuh karena berbagai fenomena kehidupan “di luar” tak mampu menjawab banyak pergolakkan batin yang berkecamuk dalam dirinya.

Tapi sayangnya, para pencari jalan spiritual ini, tak teliti. Tak membenahi dari dasar, bekal-bekal laku spiritual. Bekal-bekal laku spiritual itu, seperti praktik-praktik syariat, yang harus jadi modal dasar dalam mencari suluk.

Banyak pengajian tasawuf, yang menjaring jamaah hanya untuk menghidupkan “nafas ekonomi” para ustaz dan mursyid tanpa menerapkan metode pengajaran tasawuf yang benar. Bahkan ada seorang mursyid, yang menjalankan salat lima waktu dan ini diikuti jejaknya oleh para muridnya.

I

Inilah mursyid, yang masuk dalam kategori, “Al-mursyidu la yursyad, penunjuk jalan yang tidak mendapat petunjuk (dari Allah) di mana jalan”. Kalau soal salat, tak ada tawar menawar lagi. Jika Baginda Nabi tak salat, kita boleh tak salat tapi Baginda Nabi salat.

Jamaah meminggirkan salat karena dengan metode mikraj, bertemu dengan Allah, lebih efektif ketimbang aktivitas salat yang sekadar menjalankan rutinitas saja.

Jamaah seperti ini, jika dilacak secara teliti terkait bacaan Qurannya saja masih kacau balau tapi sudah merasa bertemu Tuhan melalui metode mikraj lebih efektif.

Sejujurnya saya kecewa, sang mursyid membiarkan murid-muridnya dengan klaim mereka sedang menjalanji chapternya masing-masing. Duh ini apa soal chapter? Tak usah berteori! Salat itu kebutuhan, tak ada chapter-chapteran.

Saya juga kecewa, sebagian jamaah setelah ikut pengajian tasawuf, tak lebih baik dalam bangunan rumah tangganya. Sebagian lebih percaya petuah mursyid ketimbang suami atau istri atau ibunya sendiri. Mereka akan marah jika sang mursyid dihina tapi jika Baginda Nabi dihina, mereka cuek. Alasannya Nabi tak perlu dibela. Prek lah.

Jangan masuk ke area tasawuf jika tak dibekali perangkat-perangkat yang memadai. Saya malas mau bicara teori, seperti yang saya pelajari dalam bangku kuliah soal Filsafat Tasawuf. Tak perlu teori. Praktik, penunjuk jalan yang tidak mendapat petunjuk (dari Allah) di mana jalan”

Akhir-akhir ini, banyak orang mencari jalan spiritual, mencari mursyid sebagai pembimbing rohani. Jalan spiritual ditempuh karena berbagai fenomena kehidupan “di luar” tak mampu menjawab banyak pergolakkan batin yang berkecamuk dalam dirinya.

Tapi sayangnya, para pencari jalan spiritual ini, tak teliti. Tak membenahi dari dasar, bekal-bekal laku spiritual. Bekal-bekal laku spiritual itu, seperti praktik-praktik syariat, yang harus jadi modal dasar dalam mencari suluk.

Banyak pengajian tasawuf, yang menjaring jamaah hanya untuk menghidupkan “nafas ekonomi” para ustaz dan mursyid tanpa menerapkan metode pengajaran tasawuf yang benar. Bahkan ada seorang mursyid, yang menjalankan salat lima waktu dan ini diikuti jejaknya oleh para muridnya.

Inilah mursyid, yang masuk dalam kategori, “Al-mursyidu la yursyad, penunjuk jalan yang tidak mendapat petunjuk (dari Allah) di mana jalan”. Kalau soal salat, tak ada tawar menawar lagi. Jika Baginda Nabi tak salat, kita boleh tak salat tapi Baginda Nabi salat.

Jamaah meminggirkan salat karena dengan metode mikraj, bertemu dengan Allah, lebih efektif ketimbang aktivitas salat yang sekadar menjalankan rutinitas saja.

Jamaah seperti ini, jika dilacak secara teliti terkait bacaan Qurannya saja masih kacau balau tapi sudah merasa bertemu Tuhan melalui metode mikraj lebih efektif.

Sejujurnya saya kecewa, sang mursyid membiarkan murid-muridnya dengan klaim mereka sedang menjalanji chapternya masing-masing. Duh ini apa soal chapter? Tak usah berteori! Salat itu kebutuhan, tak ada chapter-chapteran.

Saya juga kecewa, sebagian jamaah setelah ikut pengajian tasawuf, tak lebih baik dalam bangunan rumah tangganya. Sebagian lebih percaya petuah mursyid ketimbang suami atau istri atau ibunya sendiri. Mereka akan marah jika sang mursyid dihina tapi jika Baginda Nabi dihina, mereka cuek. Alasannya Nabi tak perlu dibela. Prek lah. (Edy A Effendi)

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Wirid Harian

Wirid Harian

Wiridan. Wirid merujuk pada warada (tunggal), artinya hadir. Di berbagai ayat arti wirid …
Janji Allah itu Pasti

Janji Allah itu Pasti

Janji Allah, tepatnya ketentuan Allah, termaktub di surat Al-Maidah:54. Jika pada satu kaum ada yan…