Logika Marx dan Kristen Jawa

Logika Marx dan Kristen Jawa


Logika Marx, enam belas tahun lalu saya mengunyahnya. Bahkan berkali-kali mengkhatamnya sembari berbaring menengadah dengan tangan kanan di letakkan di dahi sementara tangan kiri masih menggenggam Logika Marx.

Enam belas tahun lalu, di kamar kosku di Jl. Mayjen. DI Panjaitan, Paviliun 29, Yogyakarta. Persis bersebelahan bahkan dindingnya menyatu dengan dinding gereja Kristen Jawa, Ngadingeran.

Jadi kosan kami seperti menyatu dengan gereja. Nyayian dari gereja setiap Ahad pagi terdengar. Sering orang menganggap kami ya "warga" gereja. Bahkan ada yang mengira kami pendeta atau apalah yang punya kaitan dengan gereja.

Hasil gambar untuk Karl Marx

Meski kami tidak pernah bersentuhan dengan gereja. Kecuali dengan penjaganya yang sekaligus tukang bersih-bersih.
Mengapa? Karena rupanya dia oleh bapak kos kami yang tinggal di komplek keraton ditugasi menyapu halaman kosan setiap pagi. Selain juga sebagai informan bapak kosan.

Saking menyatunya dengan gereja, pernah ada kejadian tahun 1999. Saya masih ingat betul.

Hari itu Jumat. Baru saja kami pulang salat Jumat. Lalu seperti biasanya masih mengenakan sarung dan peci kami makan siang dilanjutkan ngopi sembari menghisap rokok-bagi pecandu-.

Tiba-tiba dari arah utara terdengar suara gaduh. Suara knalpol motor di gas sekencang-kencangnya. Bukan hanya satu tapi luluhan bahkan bisa ratusan. Begitu cepat.

Belum sempat kami menuju gerbang untuk melihat, terdengar suara orang bertakbir. Lalu terdengan bunyi benda keras dilempar kearah gereja. Bunyi kaca pecah, atap dan lainnya berdentangan diselingi bunyi orang berteriak-teriak bahkan ada yang menyebut kata bakar.

Hanya berselang sesaat. Puluhan batu juga dilemparkan ke arah kosan kami, mengenai atap dan hampir juga kepala saya dan beberapa teman kena andai saja tak sigap pengelak.

Seorang kawan yang dekat dengan gerbang secepat kilat menutup dan mengunci gerbang. Puluhan orang berwajah garang sembari menenteng pedang sudah didepan gerbang. Kawan tadi secepat kilat pula berlari.

Sebagian mereka mengenakan seragam ormas dan seragam sayap "militer" parpol tertentu yang saya juga kenal. Mereka mulai mengacungkan pedang kearah kami sembari berteriak-teriak. Lemparan batu mulai lagi. 

Secara refleks, kami masuk kamar masing-masing.
Dan hampir berbarengan keluar lagi ke halaman. Saya membawa Alquran dan sajadah, begitu juga beberapa teman lainnya. Dan ada juga yang akhirnya tidak keluar lagi dari kamar.

Orang-orang berwajah garang berupaya menjebol pintu pagar yang digembok, bahkan ada yang sudah mencoba untuk menaikinya.

Kami pun tak menyia-nyiakan waktu. Secara spontan kami bertakbir dan ada juga yang berteriak "Kami juga muslim!" terus kami ulang-ulang sembari. mengangkat Alquran dan sajadah.

Akhirnya mereka berhenti. Dan salah seorang berseragam ala militer lengkap dengan baret yang saya duga "komandan" nya memberi isyarat agar kami masuk ke kamar. 

Kami pun menurut begitu saja. Dari balik tirai akhirnya ratusan massa tadi bergerak kearah Selatan. Entah kemana. Yang pasti siapa saja yang mereka temui dan lambat minggir maka pedang akan diacungkan. 

Hal ini dialami seorang kawan satu kosan yang baru pulang dari warung nasi.

Akhirnya gemuruh ratusan sepeda motor itu sayung-sayup terdengar makin ke Selatan, lalu lenyap.

Kami pun berhamburan ke arah gereja. Dari pinggir pagat yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari bangunan gereja tampak kaca berserakan di lantai.

Jendela, pintu dan atap rusak. Ratusan batu sebesar kepal orang dewasa berserakan. Tak hanya itu, kayu dan ban luar mobil teronggok.

Pemilik gerobak yang menjual rokok dan lainnya di sepan kos kami menyebutkan awalnya tadi perusuh mencoba membakar ban tersebut tapi batal lantaran polisi segera berdatangan.

Setahun kemudian saya pindah kos ke arah Salakan dan beberapa kali berpindah dan akhirnya dekat Pondok Pesantren Krapyak.

Nyari yang murah, bisa bulanan atau boleh ngutang atau kerennya nyari kos yang pasca bayar.

Tak hanya Logika Marx, Das Kapital tiga jilid juga kulahap, pemikiran Antonio Gramsci, Rosa Luxembrug, Lenin dan para pemikir marxisme lainnya. Termasuk Desa Mengepung Kota.
Dan tentu saja karya sejumlah sastrawan besar Rusia seperti Novel  Haji Murad milik Leo Tolstoy.

Berkisah dari kisah nyata perjuangan kaum Muskimin Chehnya melawan raksana Rusia. Dan tentu saja karya Anton Chekov. Karya Anton yang paling saya suka "Matinya Seorang Buruh Kecili".  Hanya karena persoaln bersin bisa membawanya pada kematian. Maklum ketika bersin menyemprot ke sana kemari sehingga mengenai seorang tentara Rusia.  Karena dihantui ketakutan akhirnya petani itu mati.

Pisau bedah yang tajam. Membuka cara pandang bagaimana kapitalisme bekerja dengan sangat kejam.
Sebagian kawan menuduh aku macam-macam. Padahal aku begitu istiqomah salat.

Aku gelisah. Belum menemukan Islam yang dapat menjadi panduan menyelesaikan berbagai persoalan. Kecuali lebih banyak aku temui justru Islam lewat pendekatan mistik, dogmatis bahkan justru menyerempet kesyirikan.

Aku belum menemukan Islam pendekatan rasional dan sebagai sebuah konsep hidup yang utuh.

Meski sebagian kawan-kawan ada yang atheis, tapi aku tegas menolaknya. Aku sebatas memandang sebagai pisau bedah. Bukan sebagai akidah! 

Dan pertanyaan-pertanyaan "nakal" pun mulai muncul. Apa iya Allah SWT. Tidak menurunkan bagaimana mengatur ekonomi, politik, militer, sosial, hukum, dan lainnya? Apa iya kita bebas mengambil aturan apa saja didunia ini yang penting sudah menjalankan rukun Islam? Apakah iya harus mengambil marxisme? Artinya seluruh rukun Islam dijalankan, tapi berekonomi cara Marxisme? Apa iya Islam membiarkan kekayaan alam dirompok kapitalis, asing dan anteknya?

Apa iya ummat Islam tidak punya pemimpin yang satu sehingga harus terpecah belah bahkan saling hantam?
Bahkan mau ke wilayah lainnya harus izin dan bayar. Bahkan mau naik haji ke Mekkah hatus izin dan bayar? 
Bukankah itu punya ummat muskim sedunia?

Beratus pertanyaan sejenisnya hadir di kepala ini.
Dan ternyata saya salah. Atau setidaknya menemukan jawaban sesuai akal dan menenteramkan jiwa.
Islam way of life. Masuk wc aja diatur apalagi ekonomi, politik, hukum,soaial, pendidikan dan seluruh segi kehidupan.

Akhirnya saya tahu. Ya akhirnya tahu dan menekuninya.
Bisa jadi bukan tidak ada. Tapi, kitalah belum menemukan kwbenaran itu. Makanya, kita harus tahu. Harus bertanya dan terus belajar. (Fakhruddin Halim, penikmat buku)



Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler