Kupang Tak Lagi Bersedih Saat Cuaca Beralih

Kupang Tak Lagi Bersedih Saat Cuaca Beralih



KABARLAIN - Dua hari ini cuaca di kota Kupang begitu bersahabat. Langit  biru jernih menenangkan. Semua orang tanpa beban keluar rumah. Bersemangat dengan wajah cerah. Menembus kilauan cahaya menghilang di ujung jalan. Ini tidak kutemui di tiga atau empat minggu yang lalu.

Saat itu banyak wajah wajah tertunduk lesu.

 “Rumah kami rata tanah pak. Kami sonde tahu lagi musti tidur dimana. Sonde ada yang tersisa. Bahkan kompor kami satu satunya juga melayang entah jatuh di mana,” cerita ibu Maria Bola yang kutemui pagi itu. 



Sehari sebelum ibu Maria bercerita, tanggal 28 Februari 2019 terjadi peristiwa angin Puting Beliung di kota Kupang NTT. Jam 14.20 siang itu, awan gelap di atas Kelurahan Liliba dan Kelurahan Penfui berputar bak gasing. Warga panik.  Suara gemuruh mendekat lalu membabat. Yang tersisa suara insan memanggil Tuhan. Yang terjadi, terjadilah.


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis 107 rumah rusak. Rumah-rumah tersebut kehilangan atapnya, terbawa angin entah kemana. Jatuhnya juga tak tentu rimbanya. Anak kos kehilangan buku dan pakaiannya, ibu kos kehilangan pendapatan bulanannya. Semua mengungsi sementara di tenda tenda. 

 “Beta bersyukur pada Tuhan, nyawa kami masih belum diambilnya,” ujar Step berkata dalam pasrahnya sambil memegang parang merapikan dahan pepohonan yang patah berserakan. Atap lantai duanya tersingkap dan lembaran seng itu berserakan di samping rumah. 



Seluruh stakeholder terutama pemkot Kupang turun tangan dan menyatakan tanggap darurat bencana (TDB). Tepat 7 hari berikutnya yaitu tanggal  8 Maret 2019, Walikota Kupang Jefri Riwu Kore mencabut status TDB dibarengi dengan menyerahkan santunan dan bantuan terakhir.



Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam beberapa kesempatan merilis bahwa bencana hidrometeorologis  diakibatkan aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang tumbuh dan berkembang di Samudera Hindia. MJO turut memberikan andil adanya putaran siklonik dan daerah konvergensi di berbagai wilayah Indonesia, tak terkecuali di kupang NTT. Dampaknya bisa terjadi banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang dan  ternyata, cobaan belum usai.

Dua hari setelah dicabutnya TDB di tanggal 10 Maret 2019 badai angin kencang justru memporakporandakan 400 rumah. Lebih luas dan lebih banyak rumah terhempas. Hampir di seluruh wilayah kota Kupang terdampak. Status TDB diberlakukan lagi. 

Wajah wajah tertunduk lesu lagi. Untuk itu, bapak steph mengulang lagi ucapan kepasrahannya.
  
 “Beta bersyukur pada Tuhan, nyawa kami masih belum diambilnya”. Kali ini, memang rumahnya tidak terkena angin. Tetapi rasa batinnya ikut merasakan 400 KK yang jadi korban. 

Sore hari ini, Jum'at 22 Maret 2019 bumi begitu damai. Cuaca sepertinya sudah berubah.

Kemarin,  21 Maret 2019 secara astronomis adalah hari equinox. Posisi matahari tepat diatas garis katulistiwa dan seakan akan membelah bola bumi menjadi dua bagian. Menjadi penanda belahan bumi utara mulai mengawali musim semi dan musim gugur di belahan bumi selatan. Artinya, kota Kupang NTT sudah merasakan tiupan angin tenggara dari benua Australia yang kering. 

Selamat datang musim kemarau di tanah karang. Memang, warga kota Kupang sudah lebih akrab dengan panas dan kekeringan.
 (Ali Warsito)


Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler