Kata Jeffrey Winters Jokowi Presiden Terlemah

Kata Jeffrey Winters Jokowi Presiden Terlemah


KABARLAIN - Analis politik Jeffrey Winters memandang Joko Widodo dinilai sebagai presiden terlemah dalam sejarah Indonesia.  Hal ini terjadi bukan saja karena Jokowi tidak memiliki modal dukungan politik yang cukup, melainkan juga karena ketidakmampuan pemerintahannya menghadapi situasi ekonomi global yang melemah.

Pikiran analis politik dari Northwestern University, Prof Dr Jeffrey Winters dilansir Wall Street Journal (WJS), edisi 23 Juli 2015 dengan judul “Political Strains Test Indonesian Leader”. 

Paragraf pertama WJS membuka kalimat dengan statemen bahwa sebagian besar daya tarik Joko Widodo ketika ia menjadi presiden negara terbesar keempat di dunia tahun lalu adalah bahwa ia bukan bagian dari elit lama negara itu. 
Tetapi pemberitaan WJS berikutnya menguar pernyataan Winters bahwa Jokowi lemah secara dukungan dari elit politik. 

"Jokowi presiden terlemah sejak masa Gus Dur. Dia dipukul oleh tokoh-tokoh politik yang tidak peduli dia jatuh," ujar Jeffrey Winters.

Hal yang paling menonjol yang dicatat Winters adalah hubungan Jokowi dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang sangat kompleks. Walaupun Mega tidak memiliki posisi formal dalam pemerintahan, tetapi dia sangat mempengaruhi pemerintahan Jokowi. 



Di sisi lain, walaupun kini menjadi partai penguasa, setelah selama satu dekade sebelumnya menjadi oposisi, faktanya di parlemen PDIP hanya memimpin koalisi kecil.

Orang-orang yang dekat dengan Mega dan Jokowi mengatakan bahwa keduanya kerap bertemu, dan Jokowi sering menerima saran dari Mega.

Beberapa investor asing keberatan dengan hal ini. Menurut mereka, ini memperlihatkan betapa Jokowi terikat pada gagasan nasionalisme yang membuat investasi asing menjadi sulit di Indonesia.

Selain Mega, tokoh politik lain yang saran-sarannya kerap didengarkan Jokowi adalah Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto.

Menurut Winters, kesalahan utama Jokowi karena bergerak terlalu cepat dari seorang walikota kota kecil menjadi pemimpin negara besar seperti Indonesia.

"Jokowi membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk memilah siapa pemain politik pada level nasional, bagaimana mereka menjalin jaringan, apa agenda mereka dan bagaimana integritas mereka," ujar Winters lagi.

Ekonom dari Standard Chartered, Eric Sugandi, masih seperti dikutip WSJ mengatakan, bila Jokowi menghabiskan waktu terlalu banyak untuk melakukan pekerjaan rumah itu, maka dia terancam kehilangan kredibilitas.

"Saya pikir pasar sedang menunggu realisasi janji-janji Jokowi," ujarnya. 


Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Lima Tips Cari Jodoh

Lima Tips Cari Jodoh

Banyak sekali orang yang hidup mewah, pendidikan tinggi dan kebutuhan lebih dari cukup t…
Jangan Jual Ayat Makrifat

Jangan Jual Ayat Makrifat

KABARLAIN - Fenomen dewasa ini dalam jagat kehidupan rohani masyarakat Indonesia, sungguh menyed…