Jangan Jual Ayat Makrifat

Jangan Jual Ayat Makrifat


KABARLAIN - Fenomen dewasa ini dalam jagat kehidupan rohani masyarakat Indonesia, sungguh menyedihkan. Melihat fenomena sebagian murid dan sebagian ustaz di sebuah padepokan yang mengusung kajian tasawuf, tapi lakunya sudah keluar dari rel nilai-nilai keadaban.

Maksud keluar dari rel nilai-nilai keadaban, karena mereka telah memanfaatkan kajian tasawuf untuk dirinya sendiri. Jualan ayat-ayat Tuhan dengan berlabel makrifat. Pandangan di atas dilansir Edy A Effendi, seorang pejalan yang mengamati banyak pergerakan tarekat di Indonesia kepada KABARLAIN.com, Sabtu, 9 Maret.

Menurut Effendi, mereka memanfaatkan orang-orang yang rindu kehadiran Allah dalam diri, yang sebagian tak mempunyai dasar ilmu-ilmu agama, dengan jalan merayu, membujuk dan berbohong soal nilai-nilai makrifat. "Praktik merayu, membujuk dan berbohong soal nilai-nilai makrifat ini, dengan jualan lain, bahwa mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Sang Guru Mursyid. Atas nama Sang Guru, beberapa murid pun tergiur. Padahal, tak semua ujaran mereka, ujaran Sang Guru. Tapi ujaran diri sendiri untuk kepentingan pribadi. Untuk kepentingan perut diri dan keluarga," tukas Effendi.

Jika praktik seperti ini dibiarkan terus Sang Guru, jelas mendistorsi nilai-nilai agung makrifat itu sendiri. Nilai-nilai luhur tentang akhlak. Tentang laku zuhud. Tentang keluhuran budi pekerti Rasulullah.

"Saya bisa yakinkan, mereka memang berpikir untuk kepentingan diri sendiri. Keyakinan saya bersandar pada laku sebagian murid dan sebagian guru, yang jauh dari akhlak mulia. Akhlak mulia yang saya maksud adalah akhlak soal nilai-nilai moral yang ada dalam diri," ungkap Effendi.

Sayangnya lagi, menurut Effendi, Sang Guru membiarkan laku sebagian murid dan sebagian ustaz yang menjual keagungan nilai-nilai makrifat. Selalu saja beralasan itu chapter mereka. Tidak! Ini bukan chapter. Ini soal nilai-nilai keadaban dalam diri. Jika bicara chapter, harusnya orang yang sudah memasuki ruang makrifat, ia telah sadar masuk dalam chapter yang bernama keilahian. Nilai-nilai keilahian ini akan membendung laku bisnis atas nama makrifat. Laku berdagang.

"Sungguh, kalian telah menipu sebagian orang yang rindu kehadiran Allah dalam diri dengan mengusung bendera makrifat," kata Effendi mengakhiri pembicaraan dengan wartawan KABARLAIN.com.
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Wirid Harian

Wirid Harian

Wiridan. Wirid merujuk pada warada (tunggal), artinya hadir. Di berbagai ayat arti wirid …
Janji Allah itu Pasti

Janji Allah itu Pasti

Janji Allah, tepatnya ketentuan Allah, termaktub di surat Al-Maidah:54. Jika pada satu kaum ada yan…